Internet dan Masa Depan Media Cetak
6 Oct
Versi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.
Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.
Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.
Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.
Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?
Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?
Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk di antaranya tidak membaca koran.
Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil “bertemu” teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.
Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way. Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.
Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.
Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?
Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reder’s Digest juga tak luput dari kebangkrutan.
Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.
Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.
Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.
Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.
Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming satu dekade lalu.
Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

@Endy. negara jawa harusnya tidak ada persoalan. tapi kalo memasukkan luar jawa, indonesia jadi begitu terbelakang ya..
)
[Reply]
@Veri & Dzal. iraha ngawadul deui yeuh? kalo mengaku digital asli, cobalah bikin project bau2 digital. yg bener aja mau bisnis teh poci hehe..
[Reply]
@Ardhi. yang gratis di internet itu pasti laris. produk2 google itu nggak ada yg dijual, semua free. baru baca terjemah wikipedia revolution, ini juga diniatkan komersial tapi gagal. kayaknya cuma joko susilo yg sukses jualan di internet haha…
[Reply]
sebagai digital native (wee) daripada ngomongin masa depan media cetak yg jelas-jelas tinggal menunggu ajal..mending kita bahas aja konstelasi dunia informasi post-eranya surat kabar…mangga dibaca artikelnya di newsweek..http://www.newsweek.com/id/216703
[Reply]
@Harry. udah cek apakah Kindle amazon udah bisa distabilo?
[Reply]
namun agak sulit nampaknya untuk bisnis buku teks sekolah atau buku kuliahan .. kalau buku teks sekolah, studi kasusnya bisa menggunakan BSE (Buku Sekolah Elektronik: saranku ke depan bisa lebih interaktif lagi formatnya) .. yang ini, yang beli "hak edar" bukunya adalah pemerintah ..untuk buku kuliahan agak berat memang, karena rata-rata sifatnya internasional… informasi yang aku dapatkan, penerbit buku yang sebagian edisinya tersedia dalam bentuk elektronik, mereka mengaku biaya yang dikeluarkan hampir sama dengan buku berbasis kertas. mereka tetap harus bayar editor, bayar designer, atau mungkin juga multimedia specialist (tambahan malah ..
..). tak lupa mereka juga harus bayar rewards ke penulis .. bedanya cuma selisih biaya kertas saja.. yang katanya juga, e-book can save more trees to be cut off ..
sementara penerbit buku berbasis kertas, mereka mengaku masih yakin bahwa pangsa pasar mereka tetap eksis. masih banyak para mahasiswa yang lebih suka belajar menggunakan buku, walaupun sudah punya notebook; fleksibel untuk dibawa kemana-mana, dan tentunya masih bisa dicorat-coret atau di-stabilo ..
[Reply]
“Information wants to be free,” sepertinya prediksi beberapa pakar ini mulai menunjukkan wujudnya. Perusahaan surat kabar memang harus kreatif mencari celah model bisnis baru.Ini ada artikel menarik terkait review buku terbaru Chris Andersen, “Free: The Future of a Radical Price” http://www.newyorker.com/arts/critics/books/2009/07/06/090706crbo_books_gladwellhttp://www.wired.com/techbiz/it/magazine/16-03/ff_free?currentPage=2Buku ini merupakan lanjutan buku Chris Andersen sebelumnya "The Long Tail". Ndak perlu pinjam bukunya mas… coba googling saja, free
Paling ndak dapat review-nya…
[Reply]
masalah konsumsi informasi memang menarik jen, isu ini menjadi penanda peralihan era informasi dan telah diramalkan sejak dulu..sekarang kita (sbg bagian dr dunia) sedang jadi saksi sejarah..di sisi lain sbg bagian dr indonesia..mslah kita berbeda dgn yg dihadapi. Di satu sisi kita belum selesai dgn budaya literasi, tapi di sisi lain kita sedang juga mengalami "persoalan" gegar budaya budaya dgn "hypertext" dll…maksud saya indonesia itu kompleks masalahnya, banyak kontradiksi (urg mah yakin indonesia mah negara paling "posmo/post struktural" drpd nagara lain..haha) dan keterputusan& pemampatan tahapan sejarah. Di tengah kondisi seperti ini, kadang wacana ada dalam pilihan "kepentingan"-kepada apa/siapa subyek membahas masalah konsumsi informasi ini (atau dalam konteks ini transisi media cetak)? karena tidak ada "pihak/kepentingan"yang benar2 obyektif atau "politically correct"…
[Reply]
@Noer. yang ramai sekarang justru aspek hukumnya ketika google memindai buku ke dalam versi digital. salah satu opini http://www.nytimes.com/2009/10/04/books/review/Hyde-t.html?_r=1
[Reply]
setelah artikel itu ditulis, saya membaca ulasan dari pemenang nobel ekonomi Gary Becker dan sejawatnya Richard Posner. Posner termasuk yang melihat bahwa pulihnya ekonomi AS tidak akan mengembalikan pembaca koran. 1. http://www.becker-posner-blog.com/archives/2009/06/the_future_of_n.html2. http://www.becker-posner-blog.com/archives/2009/06/the_social_cost.html3. http://www.becker-posner-blog.com/archives/2008/06/are_newspapers.html
[Reply]
Mas Ardhi..bukunya si anderson emang judulnya free tapi harganya gak free…iya versi onlinenya sih free..tpi itu juga untuk kawasan amrik saja..oh enaknya tinggal di amrik..hehe
[Reply]
Just change the business if that business doesn't give us much gain anymore.. Find a new way…Both Risk (eq:default) and return are consequences of a business…gitu aja kok repot toh…
[Reply]
wah kerennnn… *bingung mau ngomong apaKeren2… ditunggu traktiran ikan bakarnya :p
[Reply]
that's my bos! fufufufu
[Reply]
Wah sama dong dengan saya, kurang suka baca koran cetak dan lebih memilih versi digitalnya. Salah satu alasan utama adalah kemudahan memilih berita/artikel yang disukai dengan yang tidak. Kalau koran harus bolak-balik halaman baru ketemu. Kalau online tinggal klik menu yang ada.Btw, pernah meneliti kecenderungan orang baca buku cetak versi digital?
[Reply]