Uninstall: Protes Zaman Now

Hari ini ramai ajakan menghapus (uninstall) aplikasi Traveloka. Aksi itu konon dipicu karena bos aplikasi booking tiket pesawat dan hotel itu terlihat memberi restu pada tindakan walk-out saat pidato Gubernur DKI Jakarta pada sebuah acara pekan lalu.

Aksi boikot berupa ajakan menghapus sebuah aplikasi bisa jadi sebuah tren belakangan ini. Uber menjadi aplikasi yang terpantau paling sering diterjang ajakan boikot.


Seperti dilaporkan The New York Times, sekitar 200.000 pengguna menyambut seruan #DeleteUber sejak awal tahun.

Uber diketahui menghilangkan surcharge ketika demontrasi menentang kebijakan anti imigran Trump sedang berlangsung di JFK Airport. Langkah tersebut dibaca publik sebagai dukungan perusahaan hail-sharing itu terhadap kebijakan anti imigran.

Apalagi saat itu bosnya juga menjadi penasihat ekonomi Presiden Donald Trump.

Bos aplikasi Snapchat juga pernah membuat publik India marah karena dituduh pernah mengeluarkan pernyataan yang menyinggung: “This app is only for rich people… I don’t want to expand into poor countries like India and Spain.”

Yang lucu, cuma gara-gara ada kesamaan nama, dikabarkan banyak warga salah sasaran melampiaskan kekesalan yang seharusnya menghilangkan Snapchat tapi mereka justru menghapus Snapdeal, sebuah perusahaan e-commerce yang cukup populer di sana.

Masih di India, aplikasi mirip Traveloka dengan nama MakeMyTrip juga pernah diamuk gerakan uninstall karena komentar bosnya yang kontroversial di Twitter:

“I am a strong supporter of Narendra Modi and a vegetarian for life. But I will now eat beef only in India to support freedom for food...If Hinduism takes away right to choice of food, I rather not be a Hindu.”

Apakah seruan boikot sebuah aplikasi efektif? Ya, biasanya aksi tersebut berhasil memaksa para bos perusahaan teknologi itu minta maaf. Travis Kalanick yang menjadi bos Uber kala itu akhirnya mengundurkan diri sebagai penasihat ekonomi.

Apakah boikot dengan cara menghapus akun atau menghilangkan aplikasi dari ponsel mengganggu bisnis mereka? Ya, tetapi dampaknya bervariasi.

Angka 200 ribu pengguna bagi Uber mungkin tidak terlampau berpengaruh karena basis penggunanya yang besar. Yang pasti saingan terdekatnya, Lyft meraup keuntungan dari publikasi buruk boikot tersebut.

Bagaimana dengan Traveloka? Pengguna online travel agent ini juga cukup besar dengan 10 juta unduhan di Google Play Store. Dibanding pesaingnya seperti Tiket.com dan PegiPegi (kedua mendapat 1 juta instal), Traveloka selangkah di depan karena sudah masuk ke pasar Asia Tenggara.

Dengan jumlah inventori yang lebih banyak, Traveloka mungkin akan tetap jadi aplikasi favorit. Setidaknya ada 165 ribu pengguna yang memberikan rating bintang lima untuk aplikasi Traveloka. Dan baru 13 ribu yang memberi satu bintang sudah termasuk saat gelombang boikot datang.

Meski demikian, di masa datang seruan boikot -- dengan memberikan rating buruk atau menghapus akun-- sebagai protes terhadap tindakan korporasi (atau individunya) sepertinya akan semakin sering terjadi.

Uninstall menjadi alat untuk melakukan protes, mengirim tuntutan dan tekanan. Media sosial akan menyerang balik pemilik aplikasi dengan sangat cepat.

Sebabnya bisa banyak: sikap politik, keagamaan, atau kekeliruan individual yang fatal.

Jadi waspadalah. Gelombang protes zaman now cukup dengan satu sentuhan: Hapus!

Comments

Popular posts from this blog

Candi Cangkuang Garut

Kebun Mawar Situhapa