Ramadhan
Aug 07Tulisan lama, disajikan di sini karena sebentar lagi bulan puasa.
Mengikis Komersialisasi Ramadhan
Sudah puluhan kali berjumpa Ramadhan, tetapi wajah masyarakat kita seolah tidak banyak berubah. Indikatornya, menurut KH Salahudin Wahid (Kompas, 21/9/06), korupsi masih marak, jual beli perkara tak berkurang, kemiskinan dan kelaparan pun menjamur di tengah bumi yang makmur. Lalu apa yang kurang dengan puasa umat Muslim sebulan penuh dalam setahun itu?
Ramadhan memang selalu diharapkan akan membawa perbaikan. Ibarat pit stop dalam sebuah balapan, setelah melewati bulan suci tersebut, setiap umat Muslim semestinya mendapat energi baru untuk “berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan” sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran.
Sayangnya, kini Ramadhan tidak sebatas wahana untuk menyucikan jiwa dan menjalankan berbagai ritual agama. Selama puluhan tahun, Ramadhan ikut berproses dengan berbagai fenomena “global” sekaligus tradisi “lokal”. Akibatnya, banyak praktik yang secara intrinsik tidak ada hubungannya dengan agama, bahkan menurut sebagian orang tak kompatibel dengan ajaran agama itu sendiri, justru lebih menonjol selama Ramadhan.
Merangsang konsumsi
Sosiolog University of Oxford, Walter Armburst (2004), menyimpulkan bahwa Ramadhan selanjutnya menjadi peristiwa yang dapat dipergunakan untuk tujuan yang multiguna. Ramadhan menjadi “sesuatu” yang lebih jauh bisa dipakai untuk mewujudkan agenda yang berbeda-beda; mulai dari menjual produk, merangsang konsumsi, hingga mempromosikan sikap politik.
Para pemasar kelas dunia sejak lama menandai kedatangan Ramadhan sebagai the most important business period, dan tentu saja pada hari-hari besar agama lain. Pada bulan ini umat Muslim memang tidak makan dan minum seharian, sebulan penuh, tetapi ajaibnya konsumsi makanan meningkat signifikan (Indonesian Consumers, 2004).
Akibat larut dalam budaya konsumen, Ramadhan tidak lagi sekadar bulan untuk mengonstruksi kesalehan, merekatkan kasih sayang, atau mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi. Alih-alih menghilangkan kesenjangan, yang banyak kita baca justru promosi paket menginap dan makan sahur seharga ratusan ribu rupiah di hotel-hotel berbintang. Di layar kaca, penonton disuguhi kuis dengan hadiah miliaran rupiah.
Terjadinya persinggungan antara gairah beragama masyarakat dan motif mengeruk keuntungan pebisnis merupakan kecenderungan yang merata di negara- negara Muslim. Modernitas dan globalisasi telah mereproduksi apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai “komersialisasi Ramadhan”, mirip komersialisasi yang terjadi pada Hari Natal dan Hanukah (Islam in the Market Place: Does Ramadhan Turn into Christmas?, Sandicki & Omeraki, 2006). Pada titik inilah muncul
seruan tentang perlunya purifikasi hal-hal ritual dari yang sekular.
Purifikasi tradisi
Terciptanya keadilan tetap mensyaratkan penegakan hukum tanpa pandang bulu serta kehadiran institusi yang berwibawa. Demikian halnya, selain memerlukan kedermawanan dan solidaritas sosial yang ditumbuhkan dengan ritual puasa, kemiskinan hanya akan dapat diatasi dengan pilihan kebijakan yang tepat dan sungguh-sungguh prorakyat miskin. Dalam hal ini, langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melarang pemberian parsel merupakan contoh yang baik sebagai upaya kecil mengikis korupsi sekaligus membantu menegaskan posisi agama.
Seorang warga asing yang sudah 20 tahun bermukim di Arab Saudi mengaku enggan keluar rumah di sore hari selama Ramadhan. Pasalnya, di negara tersebut setiap bulan puasa angka kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan akibat banyak warganya tergesa-gesa pulang ke rumah menjelang buka puasa (The Washington Times, 7/11/04).
Berpuasa harus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan dan perbaikan berbagai segi kehidupan. Menurut ulama besar Mesir, Yusuf al-Qardhawi, di antara hikmah penting Ramadhan adalah menimbulkan kehendak (iradah) dan membangkitkan semangat (Fiqh Shiam, 1995). Tekad dan semangat yang kuat inilah yang perlu dipergunakan oleh umat Islam untuk merebut lagi “kendali diri”, dan bukan malah sebaliknya semakin dikendalikan syahwat konsumtivisme sehingga melanggengkan berbagai akhlak buruk di tengah-tengah masyarakat. (Gambar GettyImages)