Archive | Opini RSS feed for this section

Internet dan Masa Depan Media Cetak

6 Oct

internet_dan_masa_depan_media_cetakVersi edited artikel ini dimuat Harian Kontan, Senin 5 Oktober 2009.

Ancaman terhadap media cetak sudah muncul sejak awal abad ke-20. Namun dibandingkan radio dan televisi, internet tampil sebagai penantang yang kuat dan menakutkan.

Di Amerika Serikat, tempat di mana inovasi berbasis web tumbuh subur, satu per satu media cetak yang sudah hidup puluhan tahun bahkan ratusan tahun, berguguran. Kecemasan pun melanda, termasuk di Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar (Kompas, 5/9), kejatuhan penerbitan di AS lebih disebabkan krisis keuangan global dan kapitalisme yang bobrok di negara itu. Sebaliknya, di Eropa Barat media cetak bisa bertahan dan toko buku tetap ramai meski penetrasi internet di sana tinggi.

Memang ada koinsidensi antara tren surat kabar yang kehilangan pembaca dengan terjadinya krisis ekonomi di AS. Tapi masih perlu dilihat lagi, apakah pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sinyalnya saat ini akan mampu mengerem ambruknya industri surat kabar?

Bagi kita di Indonesia, pertanyaan yang tak kalah penting, apakah anak muda sekarang masih membeli media cetak (setelah beranjak dewasa) dalam beberapa tahun mendatang?

Pergeseran Demografi
Di AS, menurut sebagian pendapat, suramnya masa depan media cetak berpangkal pada pergeseran demografi. Generasi baru yang tumbuh seiring perkembangan pesat internet, memiliki kecenderungan tidak melakukan apa yang dilakukan orang tua mereka. Generasi ini punya gaya hidup baru, termasuk  di antaranya tidak membaca koran.

Saat ini, rata-rata pembaca koran di AS berumur 55 tahun ke atas. Pada generasi tua, koran adalah teman minum kopi di pagi hari. Tapi bagi generasi yang tumbuh di era digital, membaca media online lebih enak dilakukan sambil “bertemu” teman di situs jejaring sosial, seperti facebook.

Bagi generasi lebih tua membaca media cetak mungkin sudah menjadi kebudayaan tak tergantikan. Namun bagi generasi digital, seperti disimpulkan Prof. Sherry Turkle dari MIT, they recognize that the computer screen is merely a play of surface simulations to be explored, so they come to see reality the same way.  Barangkali, ini seperti pengalaman kita menemukan fakta komputer, akhirnya lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Apakah ini juga terjadi di Indonesia? Berbagai survei menunjukkan, pengguna internet di AS, Eropa, Jepang, dan juga Indonesia, didominasi pengguna usia muda. Yang membedakan, di negara kita penetrasi internet baru sekitar 10 persen, dengan akses paling banyak berasal dari warnet dan sekolah.

Tetapi, dari data tahun 2005 diketahui, ada sekitar 83 juta penduduk negeri ini yang berusia di bawah 20 tahun. Jika terjadi perbaikan kemakmuran dan akses internet makin tersedia luas, maka generasi inilah yang akan menentukan nasib industri surat kabar. Apakah mereka masih membaca koran seperti orang tuanya pada dekade mendatang?

Tekanan Inovasi
Uraian di atas sekaligus menegaskan bahwa krisis keuangan yang dialami AS hanya ikut mempercepat kebangkrutan sejumlah media terkenal. Sedangkan merosotnya jumlah pembaca surat kabar di AS dan negara-negara Eropa sudah terasa  sejak 1980-an. Bagaimana dengan majalah? Meski di Indonesia konon masih bisa menaikkan harga, namun majalah sekelas Reder’s Digest juga tak luput dari kebangkrutan.

Gejolak di Eropa barangkali tidak begitu tampak ke permukaan. Tapi di Perancis, awal tahun ini Presiden Nicholas Sarkozy bertemu para pemimpin media massa untuk membicarakan langkah penyelamatan. Sejumlah surat kabar yang terancam bangkrut diberi tambahan subsidi. Bentuknya, yakni dengan cara menambah iklan kepresidenan di media massa dan pembebasan pajak. Sarkozy juga bergerak lebih jauh, tiap remaja berusia 18 tahun diberikan langganan koran selama satu tahun dengan harapan mereka akan lebih apresiatif terhadap keberadaan koran.

Kejatuhan lebih cepat juga disebabkan oleh inovasi perusahaan berbasis web yang berlangsung pesat. Di AS, pendapatan iklan berbasis web kini sudah melampaui iklan radio. Pada 2006, Google membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar dollar AS dan naik menjadi 21,7 miliar dollar AS pada 2008. Nyaris seluruh pendapatan itu, yakni sebesar 97 persen diperoleh dari periklanan.

Implikasi
Ambruknya koran-koran di AS pada dasarnya bukan karena buruknya kualitas jurnalisme, melainkan semakin berkurangnya pembeli koran karena sebab-sebab di atas, yang pada gilirannya menciutkan tiras dan pemasukan iklan.

Karena itu, berkembang sejumlah opsi. Pertama, menjadikan produk jurnalisme cetak sebagai produk berbayar di internet dan tidak dibebaskan seperti saat ini. Kedua, koran akan dikelola layaknya universitas yakni dengan model endowment. Ketiga, sekaligus mengembangkan versi online, dan hasil periklanan digunakan untuk mendukung edisi cetak sebagai fourth estate yang harus tetap tegak.

Tentu saja industri surat kabar Indonesia masih punya ruang berinovasi. Di negeri ini, industri berbasis web belum berkembang bahkan jika dibandingkan booming  satu dekade lalu.

Namun, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan cenderung turunnya biaya akses internet, termasuk biaya akses melalui telepon seluler akibat perang tarif antaroperator. Dengan kecenderungan ini, pengelola media cetak dituntut menjalankan strategi baru untuk mencuri perhatian generasi digital agar tidak semakin menjauhi koran.

Puasa dan Kesalehan Digital

3 Sep

puasa_digitalBanyak sarjana sosial melihat puasa sebagai ibadah yang disertai penderitaan. Tapi, Andre Moller, dalam buku Ramadan in Java (2005), menulis sebaliknya. Moller Mengatakan, selain dinantikan, Ramadhan juga dinikmati orang Jawa.

Selain dalam aneka tradisi lama, dewasa ini Ramadhan juga dinikmati dalam banyak tradisi baru. Penetrasi internet dan telepon seluler yang makin luas telah mendorong tumbuhnya apa yang disebut sebagai generasi digital. Selain punya kehidupan nyata, generasi ini juga sangat aktif sebagai warga dunia maya.

Di satu sisi, teknologi ikut menguatkan eksistensi agama dan memudahkan pemeluknya memahami serta menjalankan pesan-pesan agama. Saat puasa, silaturahim yang dianjurkan agama lebih gampang dilakukan lewat situs jejaring sosial seperti Facebook. Sisi gelapnya, internet juga melahirkan banyak kemunkaran baru, seperti akses ilegal, penipuan identitas, pelanggaran hak cipta, hingga cyberterrorism.

Di masa depan, internet diyakini akan semakin meningkatkan transparansi  dalam organisasi dan masyarakat (Pew Internet, 2008). Namun, dari survei terhadap ahli internet, aktivis, dan para analis tersebut, juga muncul keraguan kalau era digital akan lebih banyak menghasilkan toleransi sosial dan sikap saling memaafkan.

Pada titik ini, momentum puasa tentu saja tidak sekedar untuk dinikmati, namun ia selalu diharapkan dapat menuntaskan berbagai masalah kemanusiaan kita, baik yang lama maupun baru.

“Online Religion”
Perkembangan internet mengalami percepatan sejak pertengahan 1990-an. Vatikan meluncurkan website resmi pada 1995 (www.vatican.va), dan ketika itu Paus Paulus II menyebut potensi internet sebagai “new evangelization”. Di Indonesia, Muhammadiyah lebih awal memiliki website (1997), lalu diikuti Nahdhatul Ulama (1999).

Dari sekian banyak website keagamaan di internet, Christopher Helland (2000) membaginya ke dalam dua kelompok, yaitu sebatas penyedia informasi (religion online) dan menawarkan informasi plus interaktivitas (online religion).

Saat ini, model yang pertama sudah ketinggalan zaman. Internet kini dibanjiri oleh situs-situs dengan platform user-generated content. Di sini, seorang pengguna internet berperan sebagai konsumen sekaligus produsen informasi.

Berbagai perkembangan tersebut menggiring pada sejumlah implikasi. Pertama, generasi internet memiliki caranya sendiri dalam mencari, memahami, dan mengekspresikan paham keagamaan.

Kedua, makin horizontal dan interaktif situs web, akan semakin kuat membetot perhatian publik internet. Karena itu, organisasi keagamaan yang memersepsi internet sebatas media informasi vertikal, akan cepat kehilangan pengaruh pada generasi baru ini.

Ketiga, internet banyak berfungsi sebagai “pasar bebas” tempat bertemunya spiritual entrepreneur dan religious seekers. Pada level tertentu, seperti diamati Anthony Bergin (2009), internet juga menjadi platform radikalisasi paham keagamaan.

Kesalehan Digital
Banyak pihak mengkhawatirkan generasi digital asli – lahir setelah 1980– hanya akan menjadi generasi yang kecanduan internet, malas membaca, bodoh, asosial, plagiat, dan hobi berbagi konten ilegal.

Di balik kecemasan dan terkadang stigmatis itu, generasi digital justru menampilkan kesalehan dalam bentuk yang baru.

Pertama, semangat gotong royong masih eksis, tapi bentuknya berganti menjadi kolaborasi dalam skala besar melibatkan puluhan ribu hingga jutaan orang. Dalam dunia bisnis, Don Tapscott (2006) menyebutnya sebagai era wikinomics.

Kedua, merebaknya situs jejaring sosial sepintas hanya populer sebagai ajang narsis. Namun, keinginan bersatu melawan teror –seperti dalam gerakan IndonesiaUnite!—justru bergulir kencang dari sana.

Ketiga, orang terdorong berlomba-lomba menanam kebaikan di internet seperti dengan menulis artikel yang bisa dimanfaatkan (sharing) dengan pengguna internet yang lain. Hal ini dimungkinkan berkat kedigdayaan mesin pencari (search engine) yang mampu mencatat serta mempertemukan semua “amal kebaikan” pengguna internet.

Meski demikian, kesalehan digital bukan berarti tanpa tantangan. Akrab dengan internet berarti sangat menyita waktu (time consuming), bisa mengendurkan produktivitas, dan dalam derajat tertentu berpotensi menyisihkan waktu untuk menjalankan ritual agama.

Namun, hal demikian akar persolaannya seringkali bukan pada teknologi, tetapi lebih pada persoalan manajerial (managerial problem), yaitu rendahnya kemampuan membagi waktu dan membuat skala prioritas.

Di sinilah relevansi puasa. Dengan puasa (shiyam), seorang Muslim diajak menahan diri (imsak) dari perkara legal seperti makan dan minum. Harapannya, ia akan lebih memiliki kekuatan dan mampu menjauhkan diri dari hal-hal berlebihan.

Op-ed ini dimuat Harian Kontan, 3 September 2009, hal.23

Memahami Generasi Digital

30 Jun

“There is the threat that tomorrow, what is not available online will be invisible to the world.” (Jacques Chirac).

Internet merupakan mukjizat abad ke-XXI. Ia membuka peluang sekaligus membentangkan harapan. Tetapi, seiring penetrasi yang semakin dalam, internet tiba-tiba saja melahirkan begitu banyak ketakutan.

Sejumlah kiai di Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram facebook. Di Tangerang, rumah sakit memidanakan pasiennya karena berkeluh kesah di internet. Kalangan akademisi juga tak kalah risau, mereka mencemaskan internet akan menjadi ironi kultural karena bisa mengaborsi budaya baca.

Di hadapan Jacques Chirac, ancaman internet terasa lebih hebat lagi. Internet yang dominan berbahasa Inggris dan dikuasai segelintir perusahaan berbasis web asal AS, dikhawatirkan bakal mengubur bahasa dan budaya Perancis. Ketika menjabat presiden, Chirac menetaskan Quaero, sebuah proyek high-tech dengan julukan “the Airbus of Tomorrow”. Sayangnya, perusahaan dot com yang mendapatkan mandat untuk melawan raksasa Google dan Yahoo ini kurang mendapat dukungan komunitas Eropa.

Generasi Digital
Berbagai kekhawatiran sebenarnya timbul seiring tumbuhnya generasi digital, yakni generasi yang lahir selepas tahun 1980. Tidak seperti orang tua mereka, generasi ini akrab dan cakap menggunakan perangkat teknologi digital. Mereka hidup sama nyamannya ketika di “dunia nyata” dan “dunia maya”.

Generasi digital tidak lagi melakukan protes di jalanan. Tempat ngobrol mereka bukanlah di warung kopi. Mereka –-misalnya– menggalang kebersamaan untuk “menyelamatkan” Prita Mulyasari lewat grup di facebook dan berdiskusi soal capres neolib di forum-forum online (message board).

Ciri generasi ini antara lain adalah lebih sedikit menulis tangan, cepat sekali mengetik, dan memiliki tendensi melakukan sejumlah aktivitas secara bersamaan (multi tasking). Mereka membaca blog dan bukan koran. Merekalah generasi pertama yang disebut oleh John Palfrey dan Urs Gasser (Born Digital, 2008) sebagai “Digital Native”.

Generasi “digital asli” tidak memiliki “masa lalu”. Karena itu, mereka tidak akan pernah punya kerinduan –umpamanya–terhadap teriakan loper dan wangi kertas koran pagi tatkala banyak surat kabar secara perlahan beralih ke versi online. Kehidupan serba-digital yang disetir teknologi informasi, inilah satu-satunya realitas yang mereka hadapi.

Persoalan muncul, ketika generasi tua menilai habitus generasi digital sebagai “kurang asyik” ataupun “tidak religius”. Dari sini terbit kesan seolah-olah internet mencemaskan, padahal sejatinya generasi tua yang tengah kehilangan “dunia lama” mereka. Mereka memang ikut memakai perangkat digital, tetapi jiwanya masih tertambat pada romantisme masa silam.

Lebih Cepat
Tidak ada sisi kehidupan modern yang bisa melepaskan diri dari teknologi informasi. Di titik ini, kita perlu meyakinkan diri bahwa informasi merupakan komoditas masa depan; dan minimnya akses terhadap informasi bisa menjadi sumber kemiskinan baru. Mengutip  kata-kata Titus Alexander, “In a world governed by information, exclusion from information is as devastating as exclusion from land in an agricultural age”.

Dengan demikian, memahami lingkungan baru dan karakter generasi digital menjadi kian relevan.

Pertama, perangkat digital dan internet, telah dan akan mentransformasi berbagai segi kehidupan. Panggung generasi sekarang semakin lebar dan interaksi sosial mereka akan lebih banyak bermula dari ruang maya. Pendidik dan agamawan tidak akan menjumpai mereka lagi di panggung yang lama. Jangan kaget jika tidak terlalu lama lagi seorang pelajar bisa lulus tanpa menyentuh buku, sebagaimana generasi 20 tahun lalu menyelesaikan sekolah tanpa bersentuhan dengan komputer.

Kedua, internet mendorong dunia semakin transparan. Karakter generasi digital adalah terbuka. Lewat facebook dan twitter mereka mengabarkan kehidupan privasinya setiap saat, termasuk mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang mengecewakan di internet.

Ketiga, kita perlu lekas menyadari bahwa perubahan akan lebih cepat terjadi. Teknologi berubah setiap hari. Telepon butuh waktu 89 tahun, televisi 36 tahun, untuk menjangkau 150 juta pengguna. Namun, facebook hanya perlu 5 tahun untuk menggaet 200 juta pengguna.

Arsitektur internet akan terus berkembang dan proyeksi ke depan telepon seluler akan mendominasi akses online, sehingga bisa mengikis kesenjangan digital (digital divide). Kini telepon seluler makin tersedia dengan harga rendah dan sudah menjangkau jauh ke pelosok daerah. Seperti keyakinan Jeffrey D. Sachs, di negara berkembang, telepon seluler dan internet diharapkan dapat membuka isolasi, menurunkan biaya transmisi, dan pada ujungnya mengurangi kemiskinan ekstrem.

Lalu masih adakah yang perlu dikhawatirkan? Seperti Jacques Chirac, kecemasan yang lebih mendasar adalah sejauh mana kita bisa menghindar dari dominasi teknologi dan perusahaan web raksasa yang hanya dipasok oleh sejumlah negara. Inilah tantangan yang harus ikut dijawab oleh capres-cawapres yang selalu bicara tentang kemandirian bangsa dan sekaligus sedang berebut suara generasi digital!

Artikel ini dimuat Harian Kontan, edisi 30 Juni 2009

Facebook vs Fatwa Haram

30 May

Tulisan op-ed ini dimuat di Republika, 30 Mei 2009

Facebook akhirnya menuai kontroversi. Situs yang sangat digemari terutama oleh kalangan muda ini difatwakan haram. Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur mengharamkan penggunaan jejaring sosial seperti friendster dan facebook yang berlebihan (Republika Online, 23/5). Fatwa ini cukup mengentak di kalangan facebookers Tetapi, bisa jadi fatwa haram ini tidak akan banyak pengaruhnya. Seperti dalam kasus golput, di mana justru semakin membengkak jumlahnya meski sudah difatwakan haram. Mengapa?

Jumlah pengguna facebook saat ini sudah sangat menggurita. Lebih dari 225 juta orang menjadi warga setia facebook hingga Mei 2009. Pertumbuhan tersebut, terutama ditopang pesatnya pengguna dari luar Amerika Serikat. Di Chili dan Turki, facebook bahkan dilaporkan sangat digdaya. Sebanyak 76 persen dan 66 persen pengguna internet di kedua negara adalah warga ”republik facebook”. Bagaimana di negara kita? Sebanyak 17,78 persen (2,3 juta) dari total pengguna internet juga tergila-gila dengan situs ciptaan Mark Zuckerberg itu. Padahal, awal tahun ini pengguna facebook baru sekitar 1 juta.

Keunggulan facebook terutama karena kemampuannya yang memungkinkan orang untuk saling berkomunikasi, mencari dan berbagi informasi, secara efisien. Dalam ideal Mark Zuckerberg, sang penemu facebook, situs rekaannya tersebut merupakan sebuah peranti sosial (social utility). Situs ini menjadi tempat favorit untuk bernostalgia dengan teman lama, tetapi juga ampuh untuk membangun jaringan pertemanan baru.

Di facebook, seorang pengguna memiliki ‘kedaulatan’ dengan siapa saja mereka berteman dan siapa boleh mengakses informasi tentang dirinya. Facebook sangat digilai karena menjadi ajang narsis yang nyaris sempurna. Jutaan foto diunggah ke situs ini setiap hariya. Selain itu, faktor lain yang penting dicatat, facebook digemari karena situs ini relatif nyaman, sehat, dan mudah digunakan (user friendly). Situs ini galak terhadap pornografi dan tidak terlampau eksesif menampilkan iklan.

Jika menilik sejarahnya, facebook dikembangkan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Harvard dan awalnya hanya menerima keanggotaan dari kalangan pelajar dan mahasiswa di AS. Dalam tempo singkat facebook sukses ”merevolusi” kehidupan kampus. Facebook, pesta, dan cinta; Tiga kata yang kemudian tak bisa dipisahkan. Lewat fitur grup, mahasiswa saling mengundang (invite) menghadiri pesta yang tentu saja lengkap dengan minuman keras. The Crimson, koran di Harvard, banyak melaporkan, polisi dibuat sibuk dengan membanjirnya acara pesta.

Dibandingkan dengan situs sejenisnya, facebook juga memiliki fitur yang memungkinkan seorang pengguna ”mengobral” status cinta mereka ke teman-teman di dalam jaringannya. Ajakan kencan (seks) yang agresif kerap dikeluhkan dan menjadi alasan mengapa sebagian mahasiswa membenci facebook.

Kini, setelah go international, facebook dibuat sedemikian rupa agar membuat semua orang merasa nyaman berlama-lama di dalamnya. Dengan fitur-fitur yang terus disempurnakan, facebook memang akan semakin memikat banyak orang, termasuk generasi tua. Apalagi, fitur tersebut sebagiannya menjadi substitusi perangkat online lain seperti e-mail, blog, album foto, dan chatting room. Dan, facebook sangat agresif dalam menambah fitur baru tersebut.

Kecanduan facebook dan situs sejenis memang menyisakan sejumlah persoalan. Pada individu, facebook bisa menimbulkan kecanduan pada penggunanya. Di kalangan pelajar, facebook diduga telah mengalahkan waktu untuk belajar. Studi yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Ohio menyimpulkan, pelajar yang mengunjungi facebook secara rutin lebih buruk hasil tesnya di sekolah (Cnet.com, 12/4/2009). Entah karena alasan seperti ini, Universitas Indonesia sejak pertengahan Mei 2009 mulai membatasi akses mahasiswa, dan facebook hanya bisa diakses selepas jam 4 sore.

Facebook juga sering didakwa berperan menurunkan produktivitas. Sebuah kalkulasi meyebutkan, dengan rata-rata seorang pekerja ‘nongkrong’ di facebook selama satu jam sehari, Australia kehilangan 5 miliar dolar AS pada 2007. Atas dasar ini, banyak kantor ramai-ramai menutup akses ke situs tersebut pada jam efektif kerja.

Namun, apakah karena dampak seperti tadi facebook lantas diharamkan? Studi lebih baru justru menyimpulkan sebaliknya. Dr Brent Coker dari Universitas Meulbourne, menemukan bahwa pekerja yang berselancar di internet untuk sekadar rekreasi pada jam kantor (Workplace Internet Leisure Browsing) lebih produktif ketimbang yang tidak melakukannya. Tak heran, jika banyak pihak di negeri ini keberatan terhadap fatwa haram dengan alasan facebook masih lebih banyak manfaat daripada mudaratnya.

Tantangan beragama
Tumbuhnya generasi digital merupakan tantangan besar bagi institusi agama. Selama ini, siaran televisi dan menjamurnya pusat belanja (mal) sudah cukup membuat agama ‘tersisih’. Menonton dan berbelanja bahkan sudah seperti ritual; lebih khusyuk dilakukan serta punya alokasi waktu khusus yang lebih panjang ketimbang ibadah. Kini, dengan kecenderungan makin murahnya koneksi internet dan beragamnya perangkat untuk mengaksesnya, kompetisi antara agama vs teknologi menjadi semakin keras. Nasib agama pun bisa jadi akan kian tersisih.

Dalam kasus facebook, akrab dengan situs tersebut berarti sangat menyita waktu (time consuming). Bagi banyak remaja, berlebihan menggunakan facebook potensial mengabaikan tugas belajar mereka, termasuk kewajiban mendalami agama. Namun, dari sisi pengaruh buruk, dampak televisi masih jauh lebih kuat. Di facebook kendali ada pada pengguna, sementara televisi menjejali penonton dengan tayangan yang sering kali tidak mendidik dan tidak sesuai dengan usianya.

Sudah menjadi tugas pokok ulama membimbing umatnya–terlebih generasi muda–ke jalan yang benar. Konon, fatwa haram muncul karena semakin banyaknya santri yang ‘tersihir’ canggihnya situs jejaring sosial di internet. Tentu saja, sesuatu perilaku yang berlebihan dan melalaikan, tidak selaras dengan ajaran agama. Dalam konteks seperti ini, fatwa dan respons para kiai dapat dipahami.

Tetapi, setidaknya terdapat dua hal yang lebih mendesak dilakukan ketimbang pendekatan fatwa.

Pertama, perlunya menanamkan kesadaran berteknologi yang sehat pada generasi yang tumbuh di era digital. Sering kali akar persolaannya bukan pada teknologi, tetapi lebih pada persoalan manajerial (managerial problem). Yaitu, rendahnya kemampuan membagi waktu dan membuat skala prioritas. Oleh karena itu, kampanye internet sehat perlu diintensifkan, termasuk harus pula menyentuh kalangan pesantren dan disisipkan dalam kurikulum sekolah-sekolah agama.

Kedua, harus dihindari kesan seolah-olah agama memusuhi teknologi. Sebaliknya, agama harus diarahkan untuk mendorong rasa ingin tahu (curiousity) dan menumbuhkan kreativitas generasi muda. Penting digarisbawahi, facebook adalah produk teknologi hasil kreasi remaja usia 20 tahun.

Alhasil, saat ini umat Islam perlu lebih banyak memproduksi teknologi ketimbang menghasilkan fatwa. Teknologi yang tumbuh dari dalam tentu akan lebih memahami dan berkesesuaian dengan budaya dan keyakinan sebagai Muslim. Inilah tantangan sesungguhnya di era digital.

http://republika.co.id/koran/24/53290/I_Facebook_I_vs_Fatwa_Haram

Blog Widget by LinkWithin