Pekan ini Google Inc (GOOG) mengumumkan kenaikan pendapatan sebesar 27% untuk kuartal pertama 2011. Meski sedikit dibawah prediksi para analis, para pemegang sahamnya masih kecipratan laba sebesar $7 per lembar saham. Tahun lalu, di tengah persaingan yang kian ketat Google membukukan pendapatan sebesar $28 miliar.
Jika anda pemilik, pegawai, atau pemegang saham Google, pastilah anda seorang kaya raya. Harga saham Google diperjualbelikan pada kisaran $500-$600 per lembarnya. Atau sekitar 8500 kali harga saham Garuda Indonesia (GIAA) di BEI.
Dari mana Google mendapatkan penghasilan sebesar itu? Tentu saja dari iklan. Google mengumpulkan recehan dari setiap klik iklan pada mesin pencari dan layanan berbasis web miliknya, serta seluruh jaringan publisher-nya.
Saya sering ditanya, kalau cuma jadi publisher Google apakah bisa kaya raya juga?
Jawabannya sangat tergantung dari kualitas website milik anda. Tengoklah Demand Media (DMD)jika ingin melihat salah satu contoh sukses. Perusahaan ini memiliki beberapa jaringan weblog — seperti eHow,golflink, answerbag– yang kontennya diklaim ditulis oleh para profesional di bidangnya.
Pada Agustus 2010 Demand Media masuk Nasdaq dengan saham perdana ditawarkan $22 per lembar (250 kali IPO Garuda Indonesia). Pendapatannya untuk tahun 2010 melebihi pendapatan iklan Grup MNC dari RCTI, MNC TV, dan Global TV. Sebelum Google meluncurkan algoritma baru di mesin pencarinya, proyeksi pendapatan Demand Media adalah $300 juta dolar untuk 2011.
Kenapa pendapatan Demand Media sangat besar? Karena mereka memasang Google Adsense dan hanya menyajikan tulisan dengan topik-topik yang paling dicari di internet. Google menyebut perusahaan sejenis ini sebagai “content farm”.
Saya juga pernah mendengar keraguan terhadap adsense. Bukankah kalau makin banyak orang tahu itu iklan, pengunjung web tidak akan tertarik lagi untuk klik?
Kunci keberhasilan Google adalah adopsinya terhadap model contextual advertising. Menurut saya, ini adalah tipe iklan yang amat halus dan sopan. Jika kita mencari sesuatu di mesin pencari Google, begitu juga jika kita dikirim mesin pencari ke sebuah website, maka iklan yang tampil hanya yang relevan dengan kata kunci pencarian kita.
Bandingkan dengan iklan-iklan di situs berita nasional yang seringkali berupa banner yang menonjok mata. Kadang-kadang satu layar penuh dan tanpa opsi untuk menutupnya segera.
Keampuhan model contextual advertising juga dinikmati mesin pencari Baidu di China. Pemiliknya bahkan menjadi orang terkaya di negara tersebut versi majalah Forbes. Padahal sebelumnya, Baidu terseok-seok ketika menerapkan tiga model bisnis lain sebelum beralih meniru Google.
Keunggulan contextual advertising bisa juga dilihat dari kasus Facebook. Meski lebih sopan dengan hanya menampilkan tiga slot iklan di samping kanan, namun hingga kini Facebook masih tertinggal dalam perolehan iklannya. Padahal situs ini sekarang menjadi situs paling banyak diakses di banyak negara.
Kelemahan mengandalkan adsense sebagai sumber pendapatan cuma satu. Dengan memasangnya di website sama artinya sumber income kita tergantung pada sebuah perusahaan besar.
Tapi mengingat Google masih menjadi perusahaan berbasis web paling depan, inovasi produk dan akuisisi juga terus dilakukannya, sepertinya masih banyak kesempatan kaya raya bersama Google. Belilah saham, jadi karyawan, atau sekedar menjadi bagian publisher-nya.


