Seperti di belakang rumah saya, pembangunan baru atau perluasan bangunan masjid yang sudah ada terus berlangsung. Jika kita pergi dalam jarak tertentu yang agak jauh biasanya cukup mudah menemukan masjid-masjid yang sedang dibangun yang letaknya di pinggir jalan.
Pembangunan masjid sudah tentu dimaksudkan untuk menambah suplai tempat shalat. Biasanya ada beberapa faktor yang menyebabkan permintaan terhadap tempat shalat melonjak: (1) akibat bertambahnya anggota masyarakat di suatu area; (2) ibadah musiman seperti shalat tarawih dan jumat; (3) meningkatnya jumlah orang kaya;
Saya tidak melihat banyaknya pembangunan masjid baru sebagai pertanda meningkatnya kadar kesalehan sebuah masyarakat. Yang terjadi bahkan mungkin sebaliknya. Pertama, masjid baru dibangun karena orang malas pergi ke masjid yang jaraknya lebih jauh. Kedua, masjid baru dibangun karena terpaksa seperti dilakukan pengembang perumahan.
Lalu Ketiga, masjid-masjid yang ada sebenarnya over capacity kecuali pada hari jumat. Dan terakhir, masjid adalah monumen yang dibangun banyak penguasa di negara berpenduduk mayoritas muslim dan non-muslim.
Dalam catatan Wikipedia, Raja Saudi adalah pengekspor masjid terbesar di dunia. Pada dekade 1980-an, dana sebesar 45 miliar dolar telah dihabiskan untuk membangun masjid di seluruh dunia. Di Indonesia, Pak Harto lewat salah satu yayasannya membangun 99 masjid megah di seantero nusantara.
Semakin besar, kokoh, dan indah sebuah masjid, mungkin tidak berkorelasi dengan kesalehan individual. Seperti masjid di belakang rumah pagi ini, di sana cuma ada tiga baris jamaah shalatnya.
Image credit: muchdie.wordpress.com

