Digital Activism Decoded

Buku baru ini lengkapnya diberi judul “Digital Activism Decoded: The New Mechanics of Change”. Mary Joyce sebagai editor dan edisi cetaknya sudah tersedia di toko Amazon sejak bulan Juni lalu. Buku setebal 223 halaman yang terbagi menjadi 3 bab ini bisa di download di sini.

Anda aktivis facebook? Barangkali ada baiknya membaca buku ini. :)

Kartu(n) Lebaran

Kiriman dari Kontan:

Ramadhan

Tulisan lama, disajikan di sini karena sebentar lagi bulan puasa. :)

Mengikis Komersialisasi Ramadhan

Sudah puluhan kali berjumpa Ramadhan, tetapi wajah masyarakat kita seolah tidak banyak berubah. Indikatornya, menurut KH Salahudin Wahid (Kompas, 21/9/06), korupsi masih marak, jual beli perkara tak berkurang, kemiskinan dan kelaparan pun menjamur di tengah bumi yang makmur. Lalu apa yang kurang dengan puasa umat Muslim sebulan penuh dalam setahun itu?

Ramadhan memang selalu diharapkan akan membawa perbaikan. Ibarat pit stop dalam sebuah balapan, setelah melewati bulan suci tersebut, setiap umat Muslim semestinya mendapat energi baru untuk “berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan” sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran.

Sayangnya, kini Ramadhan tidak sebatas wahana untuk menyucikan jiwa dan menjalankan berbagai ritual agama. Selama puluhan tahun, Ramadhan ikut berproses dengan berbagai fenomena “global” sekaligus tradisi “lokal”. Akibatnya, banyak praktik yang secara intrinsik tidak ada hubungannya dengan agama, bahkan menurut sebagian orang tak kompatibel dengan ajaran agama itu sendiri, justru lebih menonjol selama Ramadhan.

Merangsang konsumsi

Sosiolog University of Oxford, Walter Armburst (2004), menyimpulkan bahwa Ramadhan selanjutnya menjadi peristiwa yang dapat dipergunakan untuk tujuan yang multiguna. Ramadhan menjadi “sesuatu” yang lebih jauh bisa dipakai untuk mewujudkan agenda yang berbeda-beda; mulai dari menjual produk, merangsang konsumsi, hingga mempromosikan sikap politik.

Para pemasar kelas dunia sejak lama menandai kedatangan Ramadhan sebagai the most important business period, dan tentu saja pada hari-hari besar agama lain. Pada bulan ini umat Muslim memang tidak makan dan minum seharian, sebulan penuh, tetapi ajaibnya konsumsi makanan meningkat signifikan (Indonesian Consumers, 2004).

Akibat larut dalam budaya konsumen, Ramadhan tidak lagi sekadar bulan untuk mengonstruksi kesalehan, merekatkan kasih sayang, atau mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi. Alih-alih menghilangkan kesenjangan, yang banyak kita baca justru promosi paket menginap dan makan sahur seharga ratusan ribu rupiah di hotel-hotel berbintang. Di layar kaca, penonton disuguhi kuis dengan hadiah miliaran rupiah.

Terjadinya persinggungan antara gairah beragama masyarakat dan motif mengeruk keuntungan pebisnis merupakan kecenderungan yang merata di negara- negara Muslim. Modernitas dan globalisasi telah mereproduksi apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai “komersialisasi Ramadhan”, mirip komersialisasi yang terjadi pada Hari Natal dan Hanukah (Islam in the Market Place: Does Ramadhan Turn into Christmas?, Sandicki & Omeraki, 2006). Pada titik inilah muncul
seruan tentang perlunya purifikasi hal-hal ritual dari yang sekular.

Purifikasi tradisi
Terciptanya keadilan tetap mensyaratkan penegakan hukum tanpa pandang bulu serta kehadiran institusi yang berwibawa. Demikian halnya, selain memerlukan kedermawanan dan solidaritas sosial yang ditumbuhkan dengan ritual puasa, kemiskinan hanya akan dapat diatasi dengan pilihan kebijakan yang tepat dan sungguh-sungguh prorakyat miskin. Dalam hal ini, langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melarang pemberian parsel merupakan contoh yang baik sebagai upaya kecil mengikis korupsi sekaligus membantu menegaskan posisi agama.

Seorang warga asing yang sudah 20 tahun bermukim di Arab Saudi mengaku enggan keluar rumah di sore hari selama Ramadhan. Pasalnya, di negara tersebut setiap bulan puasa angka kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan akibat banyak warganya tergesa-gesa pulang ke rumah menjelang buka puasa (The Washington Times, 7/11/04).

Berpuasa harus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan dan perbaikan berbagai segi kehidupan. Menurut ulama besar Mesir, Yusuf al-Qardhawi, di antara hikmah penting Ramadhan adalah menimbulkan kehendak (iradah) dan membangkitkan semangat (Fiqh Shiam, 1995). Tekad dan semangat yang kuat inilah yang perlu dipergunakan oleh umat Islam untuk merebut lagi “kendali diri”, dan bukan malah sebaliknya semakin dikendalikan syahwat konsumtivisme sehingga melanggengkan berbagai akhlak buruk di tengah-tengah masyarakat. (Kompas, 3 Oktober 2006)

Internet dan Perjuangan Melawan Ingatan

Internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan banyak orang. Peran internet semakin penting sejak datangnya era mesin pencari yang kerap didaulat sebagai ”guru” yang serba tahu. Kini, banyak orang tua bangga karena anaknya yang masih kecil cepat pintar sejak berkawan dengan Google.

Tetapi, internet jauh lebih menyenangkan di era jejaring sosial sekarang. Tiap hari jutaan orang berlomba-lomba memasok informasi dan menampilkan gambar milik pribadi di sana. Sebagian memahami konsekuensinya, namun sepertinya, kebanyakan masih menganggap bahwa tebar pesona di internet bukanlah sebuah ancaman.

Ingatan
Cara kerja mesin pencari dan situs jejaring sosial adalah mencatat serta menyimpan semua data dan informasi yang dimasukkan pengguna internet. Perbedaannya dengan manusia, ingatan keduanya tahan lama. Suatu saat, jika kebetulan ada yang memerlukan, maka semua informasi itu akan disajikan kembali dalam bentuk hirarki yang diurutkan mulai dari yang paling relevan. Dan siapa pun dapat mengakses semua informasi tadi dengan bebas dan mudah.

Informasi yang datang dari masa lalu tersebut kerap membawa petaka. Baru-baru ini, seorang guru besar PTS di Bandung diberitakan menjiplak karya penulis asing. Meski perbuatan itu diakuinya di Facebook sebagai ”unintentionally” (Kompas, 10/2), namun para blogger di Kompasiana dengan lekas menelusuri artikel-artikel lain atas namanya di situs mesin pencari. Ironis, mereka menemukan ada sejumlah artikel lain yang juga diduga hasil plagiarisme.

Menurut Schönberger, dalam bukunya Delete: The Virtue of Forgetting in the Digital Age (2009), melupakan menjadi lebih sulit ketimbang mengingat di era digital ini. Google lebih tahu tentang kita lebih dari apa yang mampu kita ingat tentang diri sendiri. Akibatnya? Dengan susah melupakan, tidak saja akan menyulitkan seseorang dalam memelihara reputasi. Tetapi semua masa lalu, yang baik atau buruk, akan selalu ada dan memengaruhi pikiran dan keputusan saat ini.

”Melupakan” adalah kodrat yang amat manusiawi. Dengan keistimewaan ini manusia bergerak maju dan meninggalkan masa silam yang kadang traumatik dan memenjara. Apa jadinya jika semua pengalaman itu terekam dalam bentuk memori digital yang tak pernah lupa?

Pengguna internet di negara kita kian berkembang dengan partisipasi generasi muda di situs-situs jejaring sosial yang sangat tinggi. Semakin sering terdengar kasus-kasus yang menimpa mereka seperti digugat ke pengadilan karena menulis status ofensif di Facebook atau Twitter. Sangat riskan, jika hal-hal sepele yang mereka lakukan sekarang –tanpa pernah disadari—ternyata akan mencederai masa depannya. Baik dalam karir publik ataupun kehidupan pribadi.

Di sisi lain, di internet juga marak fenomena main hakim sendiri (internet vigilantism). Peristiwa yang terkenal menimpa seorang gadis Korea Selatan yang enggan membersihkan kotoran anjingnya di dalam subway. Penumpang di dekatnya yang merasa jengkel memotret dan menayangkan kejadian itu di situs internet yang populer. Dalam sekejap, kekuatan internet menjadikan ”dog poop girl” sebagai cemoohan global. Karena malu, gadis itu akhirnya memilih keluar dari universitas.

Contoh tersebut memberikan hikmah, internet memiliki tendensi menghukum lebih berat atas kesalahan kecil yang terjadi di dunia nyata. Orang seharusnya gampang melupakan itu, tetapi internet justru membuat ingatan atasnya tertanam secara permanen.


Kerjasama
Pengaruh digitalisasi belum sepenuhnya dapat dipahami akan seperti apa dampaknya di masa datang. Selain menyajikan keakraban dalam forum-forum diskusi virtual, internet tampaknya masih akan menjadi ladang yang menumbuhkan intoleransi. Setiap saat kita bisa menemukan pengguna internet yang berupaya menggalang dukungan publik untuk menyerang pribadi, institusi, serta keyakinan, yang tidak disukai di Facebook.

Jalan untuk menurunkan ekses negatif internet antara lain dengan meningkatkan kerjasama dan memperkuat perangkat hukum. Selain kurang efekftif, pilihan otoritarianisme di dunia maya hanya akan menelan ongkos yang mahal.

Situs-situs besar di internet memiliki kepentingan menjaga reputasi mereka dan memelihara kenyamanan bagi para pengguna setianya. Hampir separuh pegawai di Facebook adalah laskar ”porn cop” yang bertugas memerangi masuknya konten ilegal seperti pornografi. Pada masa awal kemunculannya di AS, polisi menjalin kerjasama dengan Facebook untuk mengawasi pesta-pesta yang dimobilisasi dari situs ini yang menjamur di kalangan mahasiswa.

Dalam pandangan Schönberger, seperti pada makanan, penyimpanan data di internet harus memiliki masa “kadaluwarsa” agar nantinya tidak menikam masa depan seseorang. Perlu aturan agar mesin pencari yang jumlahnya banyak itu, diwajibkan menghapus konten secara otomatis setelah masa tertentu.

Saran tersebut mungkin harus dikecualikan untuk keperluan dunia akademis. Kita perlu melawan ingatan buruk, tetapi harus memelihara memori digital yang baik. Universitas Indonesia menjadi salah satu perguruan tinggi yang membuka secara utuh hasil karya ilmiah mahasiswa seperti skripsi sehingga bisa diakses secara bebas di internet. Langkah ini membuka peluang plagiarisme sekaligus mencegahnya.

Strategi open access akan lebih efektif jika Indonesia punya mesin pencari yang bertumpu pada konten lokal seperti Baidu yang berjaya di China. Karena itu, selain perlu segera merevisi UU ITE, pemerintah juga perlu mendukung lahirnya mesin pencari lokal di internet.

Artikel dimuat Harian Kontan, 19/2/10