Resensi ini dimuat Koran Jakarta, 7 Juli 2009, hal.4
Jika pergi ke toko buku, saat ini begitu banyak judul buku yang mengupas tentang Facebook. Ini jarang terjadi, sebuah situs internet menarik begitu banyak penulis untuk mengulasnya. Hanya dari semua itu, hampir seluruhnya lebih bersifat petunjuk (how to) bagaimana menggunakan situs jejaring sosial itu untuk berbagai keperluan.
Untungnya, di tengah yang terserak itu, buku Mendengarkan Dinding Fesbuker tampil agak berbeda. Buku ini berusaha melihat fenomena Facebook dari segi sosial-budaya. Sumbo Tinarbuko, penulis buku ini, dengan telaten mengamati apa yang ditulis dan ditampilkan banyak orang – dari berbagai latar belakang– pada profil Facebook mereka.
Dia menemukan, Facebook menjadi cerminan setiap penggunanya. Seorang fesbuker –sebutan untuk pengguna Facebook—menulis status dari yang bernada serius hingga remeh-temeh setiap saat. Jika dikategorikan, banyak orang menulis status tentang politik, motivasi, serta doa dan harapan. Selain itu, fesbuker juga menuliskan ungkapan cinta, puisi, plesetan, kuliner, olahraga, hingga umpatan.
Penulis buku ini juga tertarik melihat foto profil seperti apa yang ditampilkan seorang fesbuker. Dari amatannya, banyak orang menampilkan foto wajah (close up), foto keluarga, foto beradegan, dan foto sedang memotret. Menurut Tinarbuko, penampilan seseorang di Facebook, ini seolah-olah pernyataan “inilah wajahku”, silakan lihat diriku (narsis).
Tentu saja, banyak hal lain yang luput dari perhatian buku ini. Misalnya, soal status, di Facebook orang sangat suka mengabarkan di mana posisi ia berada. Sehingga bukan hal aneh jika saat ini ada orang pergi ke luar negeri hanya demi sebuah status di Facebook.
Tinarbuko menyebut Facebook sebagai ruang publik baru. Ia menjadi ruang baru untuk menemukan yang lama dan baru. Sehingga orang bisa bernostalgia dengan teman lama sekaligus mencari teman karib yang baru. Setidaknya secara virtual.
Baginya, popularitas Facebook diyakini karena semua orang butuh interaksi sosial. Meski demikian, Tinarbuko juga termasuk yang pesimistis melihat hubungan virtual seperti terjalin di Facebook. Ia percaya situs seperti Facebook pada akhirnya bisa menggeser intensitas hubungan sosial di dunia nyata.
Sebenarnya, kecemasan macam itu bisa dipilah jika pengguna Facebook dilihat asal generasinya. Dalam Born Digital (2008), John Falfrey dan Urs Gasser dengan ringkas membagi warga dunia maya menjadi dua, yaitu sebagai “Digital Native” dan “Digital Immigrant”.
Menurut keduanya, interaksi generasi digital asli lebih banyak bermula dari dunia maya. Ciri utama generasi yang lahir selepas tahun 1980 ini mereka hidup di dunia nyata dan dunia maya dengan sama nyamannya. Karena itu, bagi generasi ini dunia seperti Facebook adalah realitas apa adanya.
Persoalan justru sering terasa pada generasi sebelumnya. Sebab, meski mereka menggunakan perangkat digital, tetapi secara batiniah generasi ini tetap terikat dengan masa lalunya. Tak heran, jika generasi digital imigran melihat perangkat online sebangsa facebook lebih sebagai ruang baru yang terkadang berpotensi menyingkirkan dunia lama mereka.
Apa pun, Facebook tampaknya akan semakin menyihir banyak orang. Untuk itulah diperlukan kajian sosial lebih mendalam.
http://www.zahidayat.com/2009/07/fesbuker-mencari-relasi-baru/
Tanggapan