Kampanye Santun JK-Wiranto?

2 Jul

Hari ini gilirang pasangan JK-Wiranto menggelar kampanye akbar di Jakarta. Berita yang disiarkan Kompas.com menyebutkan pasangan ini tidak berkampanye di Gelora Bung Karno. Sebaliknya, mereka akan memecah kampanye di 5 titik di Jakarta. Kenapa ya?

Konon, katanya, menurut Koordinator Wilayah I Tim Kampanye Nasional Enggartiasto Lukita , model kampanye akbar semacam ini selain bertujuan makin mendekatkan diri kepada warga, tim bisa menghemat biaya dan mengantisipasi kemacetan lalu lintas di Jakarta di satu titik tertentu.

Jika disebar, menurut pemikiran mereka, dapat mengurangi resiko kemacetan yang parah. Selain itu, kepedulian terhadap persiapan GBK menjelang laga Indonesian All Star dan Manchester United pada pertengahan Juli mendatang juga menjadi alasan yang dikemukakan. “Pemimpin yang datangi warga. Bukan warga,” tutur Enggar.

Jadi, kalau anda penggila bola, akankah tertarik memilih JK-Wiranto?

10 tanda kalo maniak fesbuk melangsungkan perkawinan…

1 Jul

WeddingCartoonBerikut adalah ciri-ciri kalo maniak fesbuk melangsungkan perkawinan:

1. Di tiap undangan perkawinan yang disebar tertera notification: free hotspot!
2. Mas kawin untuk pengantin perempuan adalah seperangkat alat online
3. Tiap tamu undangan dikasih quiz: berapa isi amplop yg anda bawa sesungguhnya?
4. Di meja prasmanan dikasih tulisan besar: What’s on your mind?
5. Penghulu langsung membuat notes untuk mencatat semua data mempelai
6. Di buku tamu ada kolom tambahan: Add as your friend
7. Setiap yang datang selalu ditawari: become a fan??
8. Pintu keluar ditulisi: logout
9.Kalo ada yg ketok2 pintu kamar pengantin di malam hari pasti di- ignore.
10. Pada malam pertama mereka berdua menulis status: Maaf, sedang main mafia war!

Memahami Generasi Digital

30 Jun

“There is the threat that tomorrow, what is not available online will be invisible to the world.” (Jacques Chirac).

Internet merupakan mukjizat abad ke-XXI. Ia membuka peluang sekaligus membentangkan harapan. Tetapi, seiring penetrasi yang semakin dalam, internet tiba-tiba saja melahirkan begitu banyak ketakutan.

Sejumlah kiai di Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram facebook. Di Tangerang, rumah sakit memidanakan pasiennya karena berkeluh kesah di internet. Kalangan akademisi juga tak kalah risau, mereka mencemaskan internet akan menjadi ironi kultural karena bisa mengaborsi budaya baca.

Di hadapan Jacques Chirac, ancaman internet terasa lebih hebat lagi. Internet yang dominan berbahasa Inggris dan dikuasai segelintir perusahaan berbasis web asal AS, dikhawatirkan bakal mengubur bahasa dan budaya Perancis. Ketika menjabat presiden, Chirac menetaskan Quaero, sebuah proyek high-tech dengan julukan “the Airbus of Tomorrow”. Sayangnya, perusahaan dot com yang mendapatkan mandat untuk melawan raksasa Google dan Yahoo ini kurang mendapat dukungan komunitas Eropa.

Generasi Digital
Berbagai kekhawatiran sebenarnya timbul seiring tumbuhnya generasi digital, yakni generasi yang lahir selepas tahun 1980. Tidak seperti orang tua mereka, generasi ini akrab dan cakap menggunakan perangkat teknologi digital. Mereka hidup sama nyamannya ketika di “dunia nyata” dan “dunia maya”.

Generasi digital tidak lagi melakukan protes di jalanan. Tempat ngobrol mereka bukanlah di warung kopi. Mereka –-misalnya– menggalang kebersamaan untuk “menyelamatkan” Prita Mulyasari lewat grup di facebook dan berdiskusi soal capres neolib di forum-forum online (message board).

Ciri generasi ini antara lain adalah lebih sedikit menulis tangan, cepat sekali mengetik, dan memiliki tendensi melakukan sejumlah aktivitas secara bersamaan (multi tasking). Mereka membaca blog dan bukan koran. Merekalah generasi pertama yang disebut oleh John Palfrey dan Urs Gasser (Born Digital, 2008) sebagai “Digital Native”.

Generasi “digital asli” tidak memiliki “masa lalu”. Karena itu, mereka tidak akan pernah punya kerinduan –umpamanya–terhadap teriakan loper dan wangi kertas koran pagi tatkala banyak surat kabar secara perlahan beralih ke versi online. Kehidupan serba-digital yang disetir teknologi informasi, inilah satu-satunya realitas yang mereka hadapi.

Persoalan muncul, ketika generasi tua menilai habitus generasi digital sebagai “kurang asyik” ataupun “tidak religius”. Dari sini terbit kesan seolah-olah internet mencemaskan, padahal sejatinya generasi tua yang tengah kehilangan “dunia lama” mereka. Mereka memang ikut memakai perangkat digital, tetapi jiwanya masih tertambat pada romantisme masa silam.

Lebih Cepat
Tidak ada sisi kehidupan modern yang bisa melepaskan diri dari teknologi informasi. Di titik ini, kita perlu meyakinkan diri bahwa informasi merupakan komoditas masa depan; dan minimnya akses terhadap informasi bisa menjadi sumber kemiskinan baru. Mengutip  kata-kata Titus Alexander, “In a world governed by information, exclusion from information is as devastating as exclusion from land in an agricultural age”.

Dengan demikian, memahami lingkungan baru dan karakter generasi digital menjadi kian relevan.

Pertama, perangkat digital dan internet, telah dan akan mentransformasi berbagai segi kehidupan. Panggung generasi sekarang semakin lebar dan interaksi sosial mereka akan lebih banyak bermula dari ruang maya. Pendidik dan agamawan tidak akan menjumpai mereka lagi di panggung yang lama. Jangan kaget jika tidak terlalu lama lagi seorang pelajar bisa lulus tanpa menyentuh buku, sebagaimana generasi 20 tahun lalu menyelesaikan sekolah tanpa bersentuhan dengan komputer.

Kedua, internet mendorong dunia semakin transparan. Karakter generasi digital adalah terbuka. Lewat facebook dan twitter mereka mengabarkan kehidupan privasinya setiap saat, termasuk mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang mengecewakan di internet.

Ketiga, kita perlu lekas menyadari bahwa perubahan akan lebih cepat terjadi. Teknologi berubah setiap hari. Telepon butuh waktu 89 tahun, televisi 36 tahun, untuk menjangkau 150 juta pengguna. Namun, facebook hanya perlu 5 tahun untuk menggaet 200 juta pengguna.

Arsitektur internet akan terus berkembang dan proyeksi ke depan telepon seluler akan mendominasi akses online, sehingga bisa mengikis kesenjangan digital (digital divide). Kini telepon seluler makin tersedia dengan harga rendah dan sudah menjangkau jauh ke pelosok daerah. Seperti keyakinan Jeffrey D. Sachs, di negara berkembang, telepon seluler dan internet diharapkan dapat membuka isolasi, menurunkan biaya transmisi, dan pada ujungnya mengurangi kemiskinan ekstrem.

Lalu masih adakah yang perlu dikhawatirkan? Seperti Jacques Chirac, kecemasan yang lebih mendasar adalah sejauh mana kita bisa menghindar dari dominasi teknologi dan perusahaan web raksasa yang hanya dipasok oleh sejumlah negara. Inilah tantangan yang harus ikut dijawab oleh capres-cawapres yang selalu bicara tentang kemandirian bangsa dan sekaligus sedang berebut suara generasi digital!

Artikel ini dimuat Harian Kontan, edisi 30 Juni 2009

Facebook=Masjid Virtual?

28 Jun

Kolumnis The New York Times, Tom Friedman, menurunkan tulisan menarik berjudul The Virtual Mosque. Dia bertanya, apakah facebook fungsinya akan seperti masjid pada era revolusi Iran? Pertanyaan ini didasarkan pada perkembangan terakhir di republik islam tersebut di mana tokoh oposisi menggunakan facebook untuk menggalang dukungan.

Dia menulis: ” For the first time, the moderates, who were always stranded between authoritarian regimes that had all the powers of the state and Islamists who had all the powers of the mosque, now have their own place to come together and project power: the network. The Times reported that Moussavi’s fan group on Facebook alone has grown to more than 50,000 members. That’s surely more than any mosque could hold — which is why the government is now trying to block these sites”.

Tom ada benarnya. Di Indonesia, pengguna facebook sering mengidentifikasi diri sebagai “jamaah fesbukiyah”. Tapi, Tom bisa saja keliru ketika menyebut facebook sebagai “masjid” kalangan moderat. Sebab saya melihat sebaliknya,  kalangan islamis pun tak kalah aktifnya membangun jaringan di facebook.

Apakah anda juga melihat gejala yang sama sahabat maya?

Tetap Pak SBY!

22 Jun

Meski berbagai hasil survei capres trennya berbeda-beda, tetapi Elizabeth pantang mundur pilih SBY.  Siapa Elizabeth? Seperti ditulis Inilah.com, dia hanyalah seorang PSK di lokalisasi Semampir, Kediri, Jawa Timur.

“Saya lebih senang memilih SBY-Boediono. Karena Pak SBY orangnya ganteng dan gagah,” sebutnya ketika KPU Kota Kediri menggelar sosialisasi Pilpres, Senin (22/6).

Ungkapan yang kurang lebih sama dikemukakan PSK lainnya yakni PSK. “Tetap pak SBY,” ucapnya singkat, sambil menutupi wajahnya dari kamera wartawan.

Kenapa mereka pilih SBY? Jelas kalau lagi terima “pasien” di lokalisasi, mereka tidak boleh pilih-pilih. Tapi, untuk pilpres yang 5 tahun sekali, izinkanlah mereka meminang yang ganteng itu! :)

Blog Widget by LinkWithin
Page 4 of 12« First...«23456»...Last »