“There is the threat that tomorrow, what is not available online will be invisible to the world.” (Jacques Chirac).
Internet merupakan mukjizat abad ke-XXI. Ia membuka peluang sekaligus membentangkan harapan. Tetapi, seiring penetrasi yang semakin dalam, internet tiba-tiba saja melahirkan begitu banyak ketakutan.
Sejumlah kiai di Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram facebook. Di Tangerang, rumah sakit memidanakan pasiennya karena berkeluh kesah di internet. Kalangan akademisi juga tak kalah risau, mereka mencemaskan internet akan menjadi ironi kultural karena bisa mengaborsi budaya baca.
Di hadapan Jacques Chirac, ancaman internet terasa lebih hebat lagi. Internet yang dominan berbahasa Inggris dan dikuasai segelintir perusahaan berbasis web asal AS, dikhawatirkan bakal mengubur bahasa dan budaya Perancis. Ketika menjabat presiden, Chirac menetaskan Quaero, sebuah proyek high-tech dengan julukan “the Airbus of Tomorrow”. Sayangnya, perusahaan dot com yang mendapatkan mandat untuk melawan raksasa Google dan Yahoo ini kurang mendapat dukungan komunitas Eropa.
Generasi Digital
Berbagai kekhawatiran sebenarnya timbul seiring tumbuhnya generasi digital, yakni generasi yang lahir selepas tahun 1980. Tidak seperti orang tua mereka, generasi ini akrab dan cakap menggunakan perangkat teknologi digital. Mereka hidup sama nyamannya ketika di “dunia nyata” dan “dunia maya”.
Generasi digital tidak lagi melakukan protes di jalanan. Tempat ngobrol mereka bukanlah di warung kopi. Mereka –-misalnya– menggalang kebersamaan untuk “menyelamatkan” Prita Mulyasari lewat grup di facebook dan berdiskusi soal capres neolib di forum-forum online (message board).
Ciri generasi ini antara lain adalah lebih sedikit menulis tangan, cepat sekali mengetik, dan memiliki tendensi melakukan sejumlah aktivitas secara bersamaan (multi tasking). Mereka membaca blog dan bukan koran. Merekalah generasi pertama yang disebut oleh John Palfrey dan Urs Gasser (Born Digital, 2008) sebagai “Digital Native”.
Generasi “digital asli” tidak memiliki “masa lalu”. Karena itu, mereka tidak akan pernah punya kerinduan –umpamanya–terhadap teriakan loper dan wangi kertas koran pagi tatkala banyak surat kabar secara perlahan beralih ke versi online. Kehidupan serba-digital yang disetir teknologi informasi, inilah satu-satunya realitas yang mereka hadapi.
Persoalan muncul, ketika generasi tua menilai habitus generasi digital sebagai “kurang asyik” ataupun “tidak religius”. Dari sini terbit kesan seolah-olah internet mencemaskan, padahal sejatinya generasi tua yang tengah kehilangan “dunia lama” mereka. Mereka memang ikut memakai perangkat digital, tetapi jiwanya masih tertambat pada romantisme masa silam.
Lebih Cepat
Tidak ada sisi kehidupan modern yang bisa melepaskan diri dari teknologi informasi. Di titik ini, kita perlu meyakinkan diri bahwa informasi merupakan komoditas masa depan; dan minimnya akses terhadap informasi bisa menjadi sumber kemiskinan baru. Mengutip kata-kata Titus Alexander, “In a world governed by information, exclusion from information is as devastating as exclusion from land in an agricultural age”.
Dengan demikian, memahami lingkungan baru dan karakter generasi digital menjadi kian relevan.
Pertama, perangkat digital dan internet, telah dan akan mentransformasi berbagai segi kehidupan. Panggung generasi sekarang semakin lebar dan interaksi sosial mereka akan lebih banyak bermula dari ruang maya. Pendidik dan agamawan tidak akan menjumpai mereka lagi di panggung yang lama. Jangan kaget jika tidak terlalu lama lagi seorang pelajar bisa lulus tanpa menyentuh buku, sebagaimana generasi 20 tahun lalu menyelesaikan sekolah tanpa bersentuhan dengan komputer.
Kedua, internet mendorong dunia semakin transparan. Karakter generasi digital adalah terbuka. Lewat facebook dan twitter mereka mengabarkan kehidupan privasinya setiap saat, termasuk mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang mengecewakan di internet.
Ketiga, kita perlu lekas menyadari bahwa perubahan akan lebih cepat terjadi. Teknologi berubah setiap hari. Telepon butuh waktu 89 tahun, televisi 36 tahun, untuk menjangkau 150 juta pengguna. Namun, facebook hanya perlu 5 tahun untuk menggaet 200 juta pengguna.
Arsitektur internet akan terus berkembang dan proyeksi ke depan telepon seluler akan mendominasi akses online, sehingga bisa mengikis kesenjangan digital (digital divide). Kini telepon seluler makin tersedia dengan harga rendah dan sudah menjangkau jauh ke pelosok daerah. Seperti keyakinan Jeffrey D. Sachs, di negara berkembang, telepon seluler dan internet diharapkan dapat membuka isolasi, menurunkan biaya transmisi, dan pada ujungnya mengurangi kemiskinan ekstrem.
Lalu masih adakah yang perlu dikhawatirkan? Seperti Jacques Chirac, kecemasan yang lebih mendasar adalah sejauh mana kita bisa menghindar dari dominasi teknologi dan perusahaan web raksasa yang hanya dipasok oleh sejumlah negara. Inilah tantangan yang harus ikut dijawab oleh capres-cawapres yang selalu bicara tentang kemandirian bangsa dan sekaligus sedang berebut suara generasi digital!
Artikel ini dimuat Harian Kontan, edisi 30 Juni 2009
Tanggapan