Resensi: Sakitnya Orang Miskin, Senangnya Orang Kaya
21 Jun
BERITA tentang seorang suami yang kehabisan biaya, kemudian meminta istrinya yang terbujur sakit tanpa harapan agar di-euthanasia, memang belum terekam dalam buku yang menarik ini. Namun, berbicara tentang derita orang miskin di negeri ini, yang semakin sukar mengakses layanan kesehatan yang layak, buku ini telah menuliskan sebagian besar aspirasi mereka.
Memang kesan bahwa pelayanan kesehatan semakin tak terjangkau sudah bukan omong kosong lagi. Sehingga bagi rakyat kecil, yang hidup sehat saja terasa demikian susah, apalagi jika harus terkena penyakit. Istilahnya sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak sehat berarti harus berhadapan dengan harga obat yang mahal, ongkos rumah sakit yang juga tidak sedikit, dan bisa-bisa malah jadi korban malapraktik dokter. Ujung-ujungnya, sembuh tidak sembuh jika orang miskin jatuh sakit yang tersisa hanyalah kebangkrutan.
Oleh karena itu, urusan penyakit dan penanganannya sudah seperti lingkaran setan bagi kaum papa. Kemiskinan menjadikan lingkungan mereka begitu dekat dengan sumber penyakit. Namun dewasa ini penyakit tidak melulu karena perilaku hidup yang jorok. Ledakan industri makanan misalnya, ikut menceburkan masyarakat ke dalam kubangan penyakit berbahaya.
Sementara itu pemerintah selalu berkelit dengan keterbatasan anggaran ketika didesak untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Karena dana cekak pula pemerintah belum berhasil membuat pintar rakyat sehingga mereka bisa menghindari penyakit dan rumah sakit. Puskesmas yang semestinya bisa menyehatkan banyak rakyat penampilannya belum berperan secara optimal. Tak heran, ketika wabah penyakit menjalar, pemerintah seringkali gagal untuk bergerak lebih cepat mengantisipasinya.
Akibatnya, bagi penduduk miskin, terserang penyakit menjadi musibah yang terasa sangat berat. Dan entah siapa lagi yang bisa membantu ketika pelayanan kesehatan sudah disandera keangkuhan sistem pasar. Pada saat penyakit berubah semakin ganas, kerap yang diberitakan adalah pasien yang kabur dari rumah sakit atau mati di tengah jalan tak tertolong. Karena ketidakadilan, seperti ada pesan bagi orang miskin bahwa mereka tidak boleh sakit!
**
Buku “Orang Miskin Dilarang Sakit” ini disajikan menjadi tiga bagian. Pada awal pembahasan dibeberkan berbagai peristiwa mewabahnya penyakit menular dan berbahaya, yang banyak memakan banyak korban khususnya orang miskin. Berbagai cuplikan berita di media massa karena itu dihadirkan kembali seraya mengutip beberapa hasil survei.
Penulis buku –seperti diakuinya sendiri — memang bukan orang yang bergelut di bidang kesehatan. Namun ia setuju dan sangat percaya bahwa penanganan persoalan kesehatan perlu melibatkan banyak pihak. Persoalan kesehatan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai perkara medis belaka. Sehingga dalam mengatasi masalah kesehatan, yang dibutuhkan bukan hanya sepasukan dokter yang bisa memberi obat, tetapi juga kesadaran masyarakat akan perubahan lingkungan sekelilingnya. Karenanya, ilmu kesehatan harus dibuat tidak elitis dan dikuasai oleh hanya segelintir ahli.
Selain itu ditegaskannya juga bahwa orientasi kebijakan ekonomi sudah saatnya secara sungguh-sungguh mempertimbangkan implikasi-implikasinya terhadap kesehatan. Sudah banyak terbukti pembangunan yang mendesak ke belakang pertimbangan-pertimbangan kesehatan lingkungan pada akhirnya lagi-lagi menyebabkan orang miskin sebagai korban.
Selanjutnya, sakitnya orang miskin versus sakitnya orang kaya dibahas pada bagian kedua buku ini. Bagi orang kaya, karena punya uang maka sakitpun bisa dipesan; jenis penyakit yang diderita, perlu istirahat berapa hari dan siapa saja yang berhak menjenguk (hlm.59). Selain itu, tinggal di rumah sakit juga menjadi hal menyenangkan layaknya menginap di hotel. Itu sebabnya banyak koruptor lebih suka berbaring di rumah sakit dengan pelayanan mewah ketimbang duduk di kursi pengadilan. Jika pelayanan rumah sakit lokal dianggap kurang memadai, tersangka koruptor bahkan masih bisa pindah rumah sakit di luar negeri.
Sakit ternyata membawa berkah untuk mereka dan dokter mirip seperti tukang pukul yang melindungi para perompak. Surat keterangan sakit jadi bukti mujarab untuk berkelit dari tanggung jawab. Asal punya uang, ternyata surat dokter yang menyatakan sakit mudah saja diterbitkan. Dan, konon dengan surat inilah, banyak tersangka korupsi bisa lari dan berdiam di luar negeri, dengan alasan sakit. Menyenangkan buat mereka yang berbuat jahat tapi menyakitkan bagi rakyat yang uangnya telah dirampok. Kesehatan memang bukan perkara badan tapi juga posisi politik dan berapa banyak uang (hlm.64).
Dan tentu saja pada bagian akhir buku, giliran penulis meluapkan banyak kegusaran terhadap kapitalisme di sekeliling dunia medis. Jika penyakit menggerogoti kekebalan tubuh, kapitalisme ini sudah pasti sangat menindas dan menggerogoti pendapatan masyarakat. Memperlakukan penyakit seperti barang dagangan, serta menyerahkan urusan kesehatan pada mekanisme pasar bebas, sudah cukup jelas dan serius implikasinya.
Saat ini mudah ditemukan rumah sakit yang mirip kompleks perumahan mewah yang sulit diakses karena biayanya selangit. Apa jadinya jika layananan rumah sakit hanya digerakkan oleh kepentingan mencari laba dan bukannya oleh kewajiban melayani pasien yang sakit. Bagaimanapun rumah sakit adalah rumah tempat menyembuhkan (memiliki fungsi sosial) dan bukannya lembaga keuangan tempat uang beranak -pinak di situ.
Di sisi lain industri farmasi juga sama saja hanya berkhidmat pada akumulasi laba. Pasien tidak hanya dipandang sebagai orang sakit, melainkan sebagai konsumen yang perlu dibujuk supaya terus mengonsumsi obat. Dan bukan rahasia lagi kalau berbagai siasat licik akhirnya dimainkan oleh produsen obat agar dapat memenangkan persaingan.
Sorotan juga diarahkan kepada para pekerja medis yang seringkali tidak tersentuh dari tuntutan karena impunitas yang dimilikinya. Bukan saja dari gugatan malapraktik yang belakangan banyak terungkap, melainkan juga dari ketidaksediaan untuk memberikan layanan kesehatan yang murah bagi mereka yang tidak mampu. Karenanya, penulis buku ini merasa perlu untuk menuliskan imbauan yang disebutnya sebagai “surat untuk para pekerja kesehatan” di penghujung buku.
Oleh sebab itu pula para dokter, apoteker, perawat, produsen obat, dinas kesehatan, dan pekerja medis lainnya sebaiknya menyimak isi buku ini. Saatnya mengingat kembali nasib kaum miskin sambil menikmati kartun-kartun yang terasa menyentil di setiap lembar buku ini.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204…
Judul : Orang Miskin Dilarang Sakit
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book, Yogyakarta
Tahun Terbit : November 2005
Tebal : 145 halaman
Resensi ini pernah dimuat Pikiran Rakyat
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/13/teropong/resensi_buku.htm

Tanggapan